AKHIR KEBOHONGAN RATNA SARUMPAET

NEWS

AKHIR KEBOHONGAN RATNA SARUMPAET

LIPUTAN7 – JAKARTA | Media sosial mendadak ramai, kala itu, beredar foto lebam dan bengkak wajah aktivis perempuan Ratna sarumpaet.

Ragam komentar pun mengalir. Politisi, akademisi, hingga publik figure lewat akun media sosial masing-masing mengecam peristiwa tersebut.

Nanik Sudaryati misalnya, melalui akun facebook bernama Nanik S Deyang membagikan foto dan cerita kronologi penganiayaan.

Tak cuma itu, pada 1 Oktober 2018 pukul 21.52 WIB, artis dan juga politikus Partai Gerindra Rachel Maryam juga memposting foto wajah terdakwa yang dalam keadaan lebam dan bengkak dengan memberikan kicauan di akun twitter pribadinya.

Sama halnya dengan Dr Rizal Ramli di akun twitternya pada tanggal 1 Oktober 2018 pukul 22.05 WIB.

Kemudian ditimpali Wakil Ketua DPR, Fadli Zon, di akun twitter memposting foto berdua terdakwa. Ia menulis caption.

Kabar ini terus menyebar hingga membuat Prabowo Subianto, angkat bicara. Pada tanggal 2 Oktober, Prabowo mengundang awak media hadir ke kediamanya di Jalan Kertanegara No 4 Kebayoran Baru Jakarta Selatan. Turut hadir Muhammad Amien Rais, Dahnil Anzar Simanjuntak, dan Joko Santoso.

Dalam konferensi pers, Prabowo meminta pemerintah mengusut tuntas pengandaian yang dialami oleh terdakwa Ratna Sarumpaet.

Masyarakat juga memberikan reaksi atas foto lebam. Selasa tanggal 3 Oktober 2018 di Jalan Gatot Subroto samping Polda Metro Jaya Jakarta Selatan ada unjuk rasa yang mengatasnamakan Lentera muda Nusantara. Pertama, menuntut dan mendesak kepolisian untuk menangkap pelaku penganiayaan Ratna Sarumpaet. Kedua, kepolisian harus tegas tangkap dan adil.

Setelah melalui perdebatan panjang di sosial media dan media massa, pada 3 Oktober 2018, Ratna Sarumpaet menyatakan telah berbohong tentang penganiayaannya. Dia pun meminta maaf.

Tapi, Polda Metro Jaya tetap menyelidiki kasus tersebut. Ratna pun diseret ke meja hijau.

Di sana, terungkap berbagai fakta. Bahwa Ratna bengap wajahnya merupakan efek dari operasi plastik di RSK Bedah Bina Estetika, Menteng Jakarta Pusat. Menurut hasil rekam medis Ratna Sarumpaet. Tercatat, Ratna mulai mendatangi RSK Bedah Bina Estetika, Menteng Jakarta Pusat sejak tahun 2013. Saat itu, Ratna sudah mulai melakukan konsultasi.

Kala itu, Ratna mengaku menjadi korban penganiayaan. Ratna malu saat operasi keempat itu karena usianya sudah terlalu uzur.

Oleh karena itu, Ratna melalui pembelaan ini merasa perlu mengklarfikasi. Ia tegaskan, bahwa dirinya tidak bermaksud untuk membuat keonaran.

Ratna menuturkan, kebohongan yang dibuat sangat jauh dari menimbulkan rasa kebencian dan permusuhan individu.

Ratna Sarumpaet

Terdakwa kasus dugaan penyebaran berita bohong atau hoaks Ratna Sarumpaet menjalani sidang dengan agenda pembacaan tuntutan oleh Jaksa Penuntut Umum di PN Jakarta Selatan.

Lihat juga : JOKOWI UMUMKAN LOKASI IBU KOTA BARU

Drama Ratna Sarumpaet Bertanya ke Jaksa, Siapa yang Membuat Onar?
Dalam pledoinya, Ratna tidak menyangka, bahwa kebohongan yang dibuatnya berujung pada tindak pidana. Ratna merasa perlu mengklarifikasi. Tak ada maksud dari Ratna membuat keonaran.

Ratna mengatakan, kebohongan yang ia buat tidak sampai menimbulkan rasa kebencian dan permusuhan individu. Menurutnya, kebohongan itu hanya bersifat pribadi dan disampaikan hanya kepada orang-orang terdekat.

Tidak ada sedikit pun narasi atau kata-kata dalam pernyataannya yang dapat menimbulkan rasa kebencian dan permusuhan.

Ratna mengatakan, sulit memahami pasal yang disangkakan oleh JPU. Diakuinya, kebohongannya itu merupakan perbuatan terbodoh yang dilakukan selama hidup. Alhasil, Ratna terpaksa menerima sanksi sosial dari masyarakat .

Tangis Ratna Sarumpaet Saat Bacakan Pledoi

Terdakwa kasus dugaan penyebaran berita bohong atau hoaks Ratna Sarumpaet saat menjalani sidang lanjutan di PN Jakarta Selatan, Selasa (18/6/2019). Sidang tersebut beragenda pembacaan pledoi atau nota pembelaan dari terdakwa.

Dalam pledoinya, Ratna tidak menyangka, bahwa kebohongan yang dibuatnya berujung pada tindak pidana. Ratna merasa perlu mengklarifikasi. Tak ada maksud dari Ratna membuat keonaran.

Ratna mengatakan, kebohongan yang ia buat tidak sampai menimbulkan rasa kebencian dan permusuhan individu. Menurutnya, kebohongan itu hanya bersifat pribadi dan disampaikan hanya kepada orang-orang terdekat.

Tidak ada sedikit pun narasi atau kata-kata dalam pernyataannya yang dapat menimbulkan rasa kebencian dan permusuhan.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *