SAKSI KUBU PRABOWO TEMUKAN BUKTI MENCURIGAKAN

NEWS

SAKSI KUBU PRABOWO TEMUKAN BUKTI MENCURIGAKAN

LIPUTAN-7 | JAKARTA Beti Kristiana, saksi fakta yang dihadirkan Tim Hukum Prabowo-Sandi,

Mengaku menemukan dugaan kecurangan di Kecamatan Juwangi, Boyolali, Jawa Tengah. Dia mengatakan ada amplop berhologram dan bertandatangan yang diduganya berkaitan dengan hasil Pemilu.

Perempuan berkerudung itu kemudian menelusuri temuannya tersebut ke petugas kecamatan setempat. Namun, dia mendapat informasi, barang-barang tersebut adalah tumpukan sampah.

Majelis hakim kemudian tergelitik soal maksud dan tujuannya ke lokasi tersebut. Beti mengaku mendatangi kecamatan tersebut secara spontan saja dan tidak ada niatan khusus.

Meski, jarak rumah Beti ke lokasi sekitar 50 kilometer dengan lama perjalanan tiga jam.
Beti juga ditemani empat orang temannya menggunakan sebuah mobil pada 18 April 2019.

Dia juga membawa amplop yang ditemukannya di lokasi tersebut. Namun, setelah diteliti
hakim bersama ketiga pihak terkait, amplop yang dibawa itu untuk keperluan Pileg 2019.

Dia juga membawa amplop yang ditemukannya di lokasi tersebut. Namun, setelah diteliti
hakim bersama ketiga pihak terkait, amplop yang dibawa itu untuk keperluan Pileg 2019.

Sementara itu, Hakim MK I Dewa Gede Palguna bertanya pada saksi Hermansyah apakah saat ini saksi merasa terancam saat bersaksi.

“Apakah saksi selama sebelum pemilu sampai sekarang pernah alami kekerasan fisik?” tanya Nasrullah dalam sidang di Gedung MK, Rabu (19/6/2019).

Hermansyah mengaku pernah ditusuk-tusuk leher dan bagian tubuh lainnya. “Sekitar 2017, ada Juli 2017,” jawab Hermansyah

Tim hukum BPN lantas bertanya apakah luka itu dibawa ke rumah sakit dan dijahit? Namun, belum pertanyaan itu dijawab saksi, Hakim MK Arief Hidayat memotong pertanyaan itu.

Tim hukum KPU Ali Nurdin lantas bertanya pada saksi. Apakah kekerasan fisik yang terjadi pada 2017 itu ada hubungan dengan pemilu tidak. Saksi menjawab tidak ada.

Hakim Palguna menanyakan alasan saksi merasa terancam. Hermasnyah menjelaskan alasannya karena sehari sebelum bersaksi banyak mobil yang tidak dikenal berhenti di depan rumahnya yang berada di kawasan Depok.

“Sering beberapa mobil berhenti, kemarin (dari CCTV) vidio banyak sekali sekitar lima mobil,” jelas Hermansyah

Mendengar jawaban saksi, Hakim Palguna mempertanyakan mengapa saksi tidak melapor polisi apabila merasa terancam. “Kalau begitu kenapa tidak lapor polisi?” tanya Palguna.

Menurut Hermansyah, ada kelemahan di sistem situng KPU. Namun, sebelum menjelaskan lebih lanjut, hakim Arief Hidayat bertanya kepada Hermansyah.

Namun, Hakim Arief Hidayat menegaskan bahwa yang dipakai untuk perhitungan resmi adalah rekapitulasi manual bukan situng.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *