Masyarakat Samosir Takut akan Keberadaan Tiga Anak Penderita HIV

KESEHATAN

Masyarakat Samosir Takut akan Keberadaan Tiga Anak Penderita HIV

 

HIV

LIPUTAN7 ( Samosir ) – tiga anak terkena penyakit HIV ( human Immunodeficiency virus ) dilarang mendapatkan HAK pendidikan di salah satu Sekolah Dasar ( SD ) Negri 2 Nainggolan , Kabupaten Samosir .

Dari berita yang di peroleh LIPUTAN 7 , tiga anak tersebut diantaranya merupakan anak yatim piatu yang masih berumur dibawah 12 tahun . Mereka terancam akan diusir dari Kabupaten Samosir dikarenakan masyarakat Desa Nainggolan tidak setuju jika anak anak tersebut digabungkan dengan siswa-siswi lainya .

Sekretaris Eksekutif Komite AIDS Huria Kristen Batak Protestan (HKBP), Berlina Sibagariang mengatakan, masyarakat di Desa Nainggolan takut anak- anaknya tertular penyakit yang diidap ketiga bocah tersebut. Oleh karenanya masyarakat menginginkan ketiganya agar tidak bersekolah di SD umum.

“Masyarakat berharap anak-anak tidak disana  karena ketiganya tidak berasal dari situ dan juga masyarakat takut akan menularkan ke anak-anak mereka. Kita ingin adik-adik kita itu memperoleh haknya. Mereka anak-anak yang punya hak untuk sekolah dan mendapatkan pendidikan,” kata Berlina, Senin (22/10).

Berlina menjelaskan bahwa pihaknya juga mendapatkan ultimatum dari masyarakat agar ketiga anak yang mengidap penyakit HIV  segera meninggalkan Kabupaten Samosir paling lama tanggal 25 Oktober 2018. Komite AIDS HKBP saat ini masih melakukan mediasi dengan pemerintah dan masyarakat agar hal itu tidak terjadi.

“Ada surat yang datang sama kita. Ya kalau kami menanggapinya itu kurang pas sama mereka. Alasan mereka menolak anak-anak karena kita juga belum mendapatkan izin dari pemerintah. Padahal itukan punya HKBP dan mereka berhak tinggal disana. Karena itu rumah HKBP,” jelasnya.

Berlina mengungkapkan bahwa mediasi juga telah dilakukan Komite AIDS HKBP dengan Komite SDN 2 Nainggolan, masyarakat Desa Nainggolan dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Samosir. Hasil mediasi itu menyarankan agar ketiga bocah tersebut dipindahkan dari sekolah yang ada di Nainggolan dan menjalani homeschooling. Namun Komite AIDS HKBP menolak saran tersebut lantaran homeschooling akan membuat ketiganya semakin merasa terisolasi.

“Wakil Bupati Samosir, Juang Sinaga, menyebut agar ketiga anak tersebut pindah dari Desa Nainggolan dan membuka hutan untuk anak-anak terpapar HIV serta tinggal disana,” ungkapnya

“Pertemuan terakhir dengan Pemkab Samosir dan hasil pembicaraan mereka menyarankan homeschooling. Tapi mengarahkan anak-anak dipindahkan saja dari tempat itu. Mereka bilang kenapa harus di Samosir. Kenapa bukan di tempat yang lain. Anak-anak butuh sosialisasi dengan teman-temannya. Dia bisa berkembang ketika mereka bermain sama teman-teman sebaya. Ketika dibuat homeschooling mereka nanti semakin merasa terisolasi. Mereka akan merasa bahwa tidak punya teman dan itu akan membuat anak-anak terpuruk, menurut kami. Jadi kami berharap mereka diterima di sekolah,” pungkas Berlina.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *